Tampilkan postingan dengan label Kimia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kimia. Tampilkan semua postingan

Daya Hantar Listrik Larutan (larutan elektrolit dan non elektrolit)


Tugas Kimia
Daya Hantar Listrik Larutan
Disusun oleh :

Pracoyo Adi Pameco

X aks



Kata Pengantar


Yang pertama selayaknya kita ucapkan puji syukur kita ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia dan ijinNya untuk membuat laporan kegitan tentang Daya Hantar Listrik Larutan. Dan tak lupa pula saya ucapkan terima kasih kepada guru kimia kelas x Akselerasi ibu Sri Meinarti, S.Pd.


Selain itu , saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu saya dalam pembuatan karya ilmiah ini, diantaranya :

1.Kedua orang tua saya yang telah menyemangati dan membimbing saya dalam karya tulis ini.
2.Teman-teman saya yang telah memberikan kritik dan saran dalam pembuatan karya ilmiah ini.


Saya pun menyadari bahwa karya ilmiah yang saya buat ini tidaklah sempurna. Oleh karana itu, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya bila terdapat hal-hal yang salah dalam karya ilmiah yang saya buat ini.


Saya berharap bahwa karya ilmiah yang saya buat ini dapat membantu para pembaca sekalian. Akhir kata saya ucapkan terima kasih.

Daya Hantar Listrik Larutan


1. Tujuan


Mengetahui dan menahami daya hantar listrik pada setiap larutan yang akan diuji dan dapat menggolongkannya ke dalam pengelompokan-pengelompokan larutan berdasarkan daya hantar listriknya.

2.Alat dan Bahan :


1. Power Supply/batu baterai( sumber energy)
2. Kabel penghantar
3. Lampu
4. adalah elektrode
5. Gelas Kimia berisi larutan sebagai berikut :

*Air suling

*Larutan gula

* Asam asetat

* Larutan amania

* Asam sulfat

* Asam klorida

* Natrium klorida

* Larutan NaOH


3.Cara kerja


1.Susunlah alat penguji elektrolit sehingga berfungsi dengan baik.


2.Masukkan + 50mL air suling ke dalam gelas kimia, kemudian uji daya hantarnya.


3.Bersihkan electrode dengan air dan keringkan. Dengan cara yang sama, ujilah daya hantar larutan lain yang tersedia, seperti :

1.Air suling
2.Larutan gula
3.Asam asetat
4.Larutan amania
5.Asam sulfat
6.Asam klorida
7.Natrium klorida
8.Larutan NaOH






4.Landasan Teori


Konduksi kalor adalah penjalaran kalor tanpa disertai perpindahan bagian-bagian zat perantaranya pejalaran ini biasanya terjadi pada benda padat. Konduksi terjadi dari benda yang bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah. Benda suhunya tinggi akan melepaskan kalor, sedangkan zat yang suhunya rendah akan menerima kalor, hingga tercapai kesetimbangan termal. Konduktor listrik adalah material yang dapat menghantarkan arus listrik dengan mudah sedangkan isolator listrik adalah material yang tidak dapat menghantarkan arus listrik.


Arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang mengalir tiap satuan waktu. Muatan listrik bisa mengalir melalui kabel atau penghantar listrik lainnya seperti larutan kimia. Dalam atom, mengandung electron yang bermuatan negative dan berada di kulit atom. Electron dalam logam mudah berpindah dari satu atom ke atom lain di sekitarnya. Jika diberikan beda potensial, maka electron akan mengalir sehingga menghasilkan arus listrik.


Larutan Elektrolit adalah suatu zat yang larut atau terurai ke dalam bentuk ion-ion dan selanjutnya larutan menjadi kondutor elektrik, ion-ion merupakan atom-atom bermuatan elektrik. Elektrolit bisa berupa air, asam, basa atau berupa senyawa kimia lainnya. Elektorlit umumnya berbentuk asam, basa atau garam. Beberapa gas tertentu dapat berfungsi sebagai elektrolit pada kondisi tertentu misalnya pada suhu tinggi atau tekanan rendah.elektrolit kuat identik dengan asam, basa, dan garam kuat. Elektrolit merupakan senyawa yang berikatan ion dan kovalen polar. Sebagian besar senyawa yang berkaitan ion merupakan elektrolit sebagai contoh ikatan ion NaCI yang merupakan salah satu jenis garam yakni garam dapur. NaCI dapat menjadi elektrolit dalam bentuk larutan dan lelehan, atau bentuk liquid dan aqueous. Sedangkan dalam bentuk solid atau padatan senyawa ion tidak dapat berfungsi sebagai elektrolit.


Larutan Non Elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik dan tidak menimbulkan gelembung gas. Pada larutan non elektrolit, molekul-molekulnya tidak terionisasi dalam larutan, sehingga tidak ada ion yang bermuatan yang dapat menghantarkan arus listrik.

5. Hasil Pengamatan

Tabel 1 Pengamatan

Bahan Uji

Rumus Zat Terlarut

Reaksi Pada Elektrode

Reaksi Pada Lampu

Air Suling

H2O

Tidak Ada

Tidak Menyala

Larutan Gula

C12H22O11

Tidak Ada

Tidak Menyala

Asam Asetat

CH3COOH

Sedikit Bergelembung

Tidak Menyala

Larutan Amonia

NH3

Sedikit Begelembung

Tidak Menyala

Asam Sulfat

H2SO4

Bergelembung

Menyala

Asam Klorida

HCl

Bergelembung

Menyala

Natrium Klorida

NaCl

Bergelembung

Menyala

Larutan NaOH

NaOH

Bergelembung

Menyala




6.Pembahasan


Air suling dan larutan gula tergolong dalam non elektrolit karena air suling dan larutan gula tidak sama sekali menghantarkan listrik. Hal ini diperkuat oleh pengertian non elektrolit itu sendiri yaitu larutan non elektrolit sama sekali tidak dapat menyalakan lampu dan tidak menimbulkan gelembung pada elektrode.


Asam asetat(CH3COOH) dan larutan Amonia(NH3) tergolong dalam elektrolit lemah karena asam asetat dan larutan ammonia tidak dapat menyalakan lampu dan hanya dapat menimbulkan gelembung pada elektrode sesuai dengan pengertian larutan electrode lemah.


Untuk larutan asam sulfat (H2SO4), asam klorida (HCl), natrium klorida (NaCl), larutan NaOH tergolong dalam larutan elektolit kuat karena asam sulfat, asam klorida, natrium klorida dan larutan NaOH dapat menyalakan lampu dengan baik dan sekaligus menimbulkan gelembung yang banyak pada kedua elektrode.


Tabel 2 Gambaran bentuk elektrolit kuat, elektrolit lemah dan non elektrolit

Jenis Larutan

Sifat dan Pengamatan Lain

Contoh Senyawa

Reaksi Ionisasi

Elektrolit Kuat

- terionisasi sempurna

- menghantarkan arus listrik

- lampu menyala terang

- terdapat gelembung gas


NaCl, HCl, NaOH dan H2SO4

NaCl Na+ + Cl-

NaOH Na+ + OH-

H2SO4 H+ + SO42-

HCl → H + + Cl-

Elektrolit Lemah

- terionisasi sebagian

- menghantarkan arus listrik

- lampu menyala redup bahkan tak menyala

- terdapat gelembung gas

CH3COOH dan NH3

CH3COOH H++ CH3COO-

-


Non Elektrolit


- tidak terionisasi

- tidak menghantarkan arus listrik

- lampu tidak menyala

- tidak terdapat gelembung gas

Air Suling dan C12H22O11

-

-




7.Kesimpulan


Menurut hantaran listriknya, larutan dapat dibedakan menjadi larutan elektrolit dan larutan non elektrolit. Larutan elektrolit merupakan larutan yang menpunyai daya hantar aliran listrik. Sedangkan larutan non elektorolit merupakan larutan yang tidak mempunyai daya hantar aliran listrik. Larutan kimia yang termasuk dalam larutan non elektrolit diantaranya air suling larutan gula. Larutan elektrolit itu sendiri dibedakan lagi mnejadi larutan elektrolit lemah dan kuat. Larutan elektrolit lemah merupakan larutan yang mempunyai daya hantar listrik sedikit. Yang tergolong dalam larutan elektrolit lemah diantaranya asam asetat (CH3COOH), dan larutan ammonia (NH3). Larutan elektrolit kuat merupakan larutan yang menpunyai daya hantar listrik kuat. Larutan yang tergolong dalam larutan elektrolit kuat diantaranya asam sulfat (H2SO4), asam klorida (HCl), natrium klorida (NaCl), dan larutan NaOH.


8.DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/elektrolit

Purba,Michael. 2006. Kimia untuk SMA Kelas X Semester 1a . Jakarta:Erlangga.

Purba,Michael. 2006. Kimia untuk SMA Kelas X Semester 1b . Jakarta:Erlangga.

Read More..

Kimia Berwawasan Lingkungan


Kimia Berwawasan Lingkungan
Kata Pengantar

Yang pertama selayaknya kita ucapkan puji syukur kita ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia dan ijinNya untuk membuat karya tulis tentang Kimia Berwawasan Lingkungan. Dan tak lupa pula saya ucapkan terima kasih kepada guru kimia kelas x Akselerasi ibu Sri Meinarti, S.Pd.
Selain itu , saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu saya dalam pembuatan karya ilmiah ini, diantaranya :
1. Kedua orang tua saya yang telah mendukung dan membimbing saya dalam karta tulis ini.
2. Teman-teman saya yang telah memberikan kritik dan saran dalam pembuatan karya ilmiah ini.

Saya pun menyadari bahwa karya ilmiah yang saya buat ini tidaklah sempurna. Oleh karana itu, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya bila terdapat hal-hal yang salah dalam karya ilmiah yang saya buat ini.Saya berharap bahwa karya ilmiah yang saya buat ini dapat membantu para pembaca sekalian. Akhir kata saya ucapkan terima kasih.


Bengkulu, February 2010


Penulis

KIMIA BERWAWASAN LINGKUNGAN

Bab I
Pendahuluan
1.1Latar Belakang
Bumi kita semakin hari semakin panas, disebabkan semakin tipisnya lapisan ozon oleh zat-zat kimia yang merusak. Dampak pemanasan global ini merusak lingkungan dan mengancam kehidupan di Bumi. Tumbuh-tumbuhan akan mati, populasi hewan berkurang jumlahnya, manusia akan menyesuaikan diri dengan kondisi iklim yang panas.
Kerusakan bumi bukan hanya terjadi karena adanya pemanasan global, limbah-limbah industri pabrik juga mengganggu keseimbangan alam kita. Walaupun pemerintah telah mengeluarkan peraturan mengenai imbah industri, tetap ada aja pabrik-pabrik yang melanggarnya dan membahayakan lingkungan sekitar bahkan dunia. Hal ini juga didukung karena kurangnya sumber daya manusia akan teknologi atau bahkan sengaja untuk memperkecil pengeluaran dana. Industri seperti ini menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan yang secara langsung atau tidak langsung menimbulkan kerugian bagi lingkungannya baik itu penduduk yang tinggal disekitar kawasan industri atau dampak terhadap kerusakan lingkungan hidup secara menyeluruh.
Permasalahan lingkungan hidup telah menjadi suatu penyakit kronis yang dirasa sangat sulit untuk dipulihkan. Pada zaman orde baru, pembangunan diarahkan dari sektor agraris kemudian beralih ke sektor industri. Selama 20 tahun terakhir pembangunan ekonomi Indonesia mengarah kepada industrialisasi. Tidak kurang terdapat 30.000 industri yang beroperasi di Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan (Suardana, 2008). Peningkatan jumlah ini menimbulkan dampak dari industrialisasi ini yaitu terjadinya peningkatan dampak dari hasil buangan industri yang dirasakan sekarang ini.
Permasalahan pencemaran lingkungan hidup pun sampai sekarang belum dapat teratasi, namun berusaha meminimalisasi dampak yang ditimbulkannya, Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh sekolah adalah menciptakan Sekolah Berwawasan Lingkungan (SBL). Sekolah Berwawasan Lingkungan, adalah sebuah model sekolah yang menjadikan lingkungan sebagai basis dalam menciptakan dan mengembangkan lingkungan sekolah yang berkualitas dengan memberdayakan warga sekolah. Dengan adanya SBL, setidaknya mengurangi beberapa kerusakan alam seperti pemanasan global dan lain sebagainya.
Permasalahan pencemaran lingkungan hidup hanya dapat teratasi oleh besarnya kepedulian manusia terhadap lingkungannya. Bila manusia tidak peduli, maka alam akan semakin rusak dan membahayakan kehidupan makhluk hidup. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus harus peduli terhadap lingkungan kita agar keturunan kita dapat menikmatinya.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun masalah yang akan dibahas pada karya tulis ini adalah :

1.Apa kimia berwawasan lingkungan itu?
2.Apa saja penyebab pencemaran lingkungan?
3.Apa saja indikasi pencemaran lingungan akibat limbah industri?
4.Bagaimana cara agar kimia berwawasan lingkungan dapat terwujud?

1.3Tujuan Penulisan

Ada pun tujuan dari penulisan dari karya tulis ini adalah :

1.Untuk mengetahui arti dari kimia berwawasan lingkungan yang sebenarnya.
2.Untuk mengetahui apa saja penyebab pencemaran lingkungan.
3.Untuk mengetahui apa saja indikasi pencemaran lingkungan akibat limbah industri.
4.Untuk menetahui apa saja cara agar kimia berwawasan lingkungan dapat terwujud.
Bab II
Pembahasan

2.1 Arti Kimia Berwawasan Lingkungan

Dewasa ini, kita sering mendengar kalimat dengan menggunakan kata-kata “berwawasan lingkungan”. Berwawasan lingkungan berarti terbuka, peduli, dan kritis terhadap lingkungan sekitar. Kata “berwawasan lingkungan” harus dikaitkan dengan segala aspek kehidupan. Karena hubungan antara kehidupan dan lingkungan sangatlah erat dan tak dapat dipisahkan.
Kimia berwawasan lingkungan berarti penggunaan atau penerapan ilmu kimia yang memandang dampaknya terhadap lingkungan. Arti ini sangat bertentangan dengan kenyataaan yang terjadi selama ini. Penggunaan bahan-bahan kimia bukan menguntungkan lingkungan tetapi justru menghancurkan lingkungan. Oleh karena itulah kita harus menggunakan semboyan “kimia berwawasan lingkungan” tersebut. Dengan menerapkannya dalam kehidupan, kerusakan lingkungan akan teratasi bahkan terhapuskan. Namun, semua ini butuh kerja sama dan kekompakan. Setiap orang wajib mempertimbangkan penggunaan bahan-bahan kimia dengan bahayanya terhadap lingkungan.

2.2 Penyebab-Penyebab Pencemaran Lingkungan

2.2.1 Pencemaran Akibat Proses Industri

Pencemaran air, udara, tanah dan pembuangan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dapat dihasilkan dari proses produksi industri. Salah satu penyebab yang terjadi karena pemerintah dan pelaku industri kurang mengedepankan sektor lingkungan. Akibatanya merupakan persoalan yang harus dihadapi oleh komunitas-komunitas yang tinggal di sekitar kawasan industri.
Limbah industri umumnya berupa bahan sintetik, logam berat, bahan beracun berbahaya yang sulit untuk diurai oleh proses biologi (nondegradable) selain itu limbah industri bersifat menetap dan mudah terakumulasi (biomagnifikasi) bahkan logam berat sebagai sebuah unsur memiliki kodrat menetap di alam tidak dapat dihilangkan.
Sedangkan limbah domestik umumnya tersusun atas limbah organik, jenis limbah ini dapat terurai menjadi zat-zat yang tidak berbahaya dan dapat dihilangkan dari perairan dengan proses biologis alamiah (biodegradable), proses kimia dan fisika. Selain itu yang perlu dikawatirkan adalah dampak limbah industri terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Limbah industri yang bersifat nonbiodegradable berbahaya terhadap kesehatan manusia karena beberapa unsur logam berat seperti merkuri memiliki sifat toksik dan destruktif terhadap organ penting manusia.
Akibat lalainya Pemerintah dalam melakukan kontrol terhadap industri maka sumber pencemar kandungan logam berat seperti merkuri di air setiap tahun mengalami peningkatan. Dari aspek pengendalian sebenarnya limbah cair industri lebih mudah untuk dipantau dan dikendalikan karena lokasinya yang terpusat (point source) sebaliknya limbah domestik letaknya yang tersebar (disperse source).
Gejala umum pencemaran lingkungan akibat limbah industri yang segera tampak adalah berubahnya keadaan fisik. Air sungai atau air sumur sekitar lokasi industri pencemar, yang semula berwarna jernih, berubah menjadi keruh berbuih dan terbau busuk, sehingga tidak layak dipergunakan lagi oleh warga masyarakat sekitar untuk mandi, mencuci, apalagi untuk bahan baku air minum. Terhadap kesehatan warga masyarakat sekitar dapat timbul penyakit dari yang ringan seperti gatal-gatal pada kulit sampai yang berat berupa cacat genetik pada anak cucu dan generasi berikutnya.
Hampir di seluruh wilayah Indonesia terjadi pencemaran industri dalam berbagai skala dan dalam beragam bentuk. Sejak awal berdiri, sektor industri seringkali menimbulkan masalah, misalnya, lokasi pabrik yang dekat dengan pemukiman penduduk, pembebasan tanah yang bermasalah, tidak dilibatkannya masyarakat dalam kebijakan ini, buruknya kualitas AMDAL, sering tidak adanya pengolahan limbah, dan lain sebagainya. Dampak lainnya yang timbul adalah polusi udara, polusi air, kebisingan, dan sampah. Semua dampak tersebut menjadi faktor utama penyebab kerentanan yang terjadi dalam masyarakat. Kehidupan masyarakat menjadi tambah rentan karena buruknya kualitas lingkungan.
Bagaimana dengan air limbah industri? Dalam kegiatan industri, air limbah akan mengandung zat-zat/kontaminan yang dihasilkan dari sisa bahan baku, sisa pelarut atau bahan aditif, produk terbuang atau gagal, pencucian dan pembilasan peralatan, blowdown beberapa peralatan seperti kettle boiler dan sistem air pendingin, serta sanitary wastes. Agar dapat memenuhi baku mutu, industri harus menerapkan prinsip pengendalin limbah secara cermat dan terpadu baik di dalam proses produksi (in-pipe pollution prevention) dan setelah proses produksi (end-pipe pollution prevention). Pengendalian dalam proses produksi bertujuan untuk meminimalkan volume limbah yang ditimbulkan, juga konsentrasi dan toksisitas kontaminannya. Sedangkan pengendalian setelah proses produksi dimaksudkan untuk menurunkan kadar bahan pencemar sehingga pada akhirnya air tersebut memenuhi baku mutu yang sudah ditetapkan.
Batasan Air Limbah untuk Industri
Tabel dibawah ini berisi mengenai daftar parameter yang harus diperhatikan oleh para pelaku industri.
Parameter
Konsentrasi (mg/L)

COD
100 – 300

BOD
50 – 150

Minyak nabati
5 – 10

Minyak mineral
10 – 50

Zat padat tersuspensi (TSS)
200 – 400

Ph
6.0 – 9.0

Temperatur
38 – 40 [oC]

Ammonia bebas (NH3)
1.0 – 5.0

Nitrat (NO3-N)
20 – 30

Senyawa aktif biru metilen
5.0 – 10

Sulfida (H2S)
0.05 – 0.1

Fenol
0.5 – 1.0

Sianida (CN)
0.05 – 0.5


Sumber : Kepmen LH No. KEP-51/MENLH/10/1995
Dalam pengolahan air limbah itu sendiri, terdapat beberapa parameter kualitas yang digunakan. Parameter kualitas air limbah dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu parameter organik, karakteristik fisik, dan kontaminan spesifik. Parameter organik merupakan ukuran jumlah zat organik yang terdapat dalam limbah. Parameter ini terdiri dari total organic carbon (TOC), chemical oxygen demand (COD), biochemical oxygen demand (BOD), minyak dan lemak (O&G), dan total petrolum hydrocarbons (TPH). Karakteristik fisik dalam air limbah dapat dilihat dari parameter total suspended solids (TSS), pH, temperatur, warna, bau, dan potensial reduksi. Sedangkan kontaminan spesifik dalam air limbah dapat berupa senyawa organik atau inorganik

2.2.2 Pencemaran Akibat Pembakaran Bahan Bakar Fosil

Dalam beberapa dasawarsa terakhir ini, telah disadari bahwa pembakaran bahan bakar fosil (batu bara, minyak bumi, dan gas alam) menyebabkan masalah pencemaran lingkungan, khususnya pencemaran udara. Berikut ini merupakan pembahasan dari beberapa aspek yang berkaitan dengan pencemaran lingkungan akibat pembakaran bahan bakar fosil, yang meliputi sumber pencemaran dan usaha pencegahannya.

1.Sumber Bahan Pencemaran

Pencemaran akibat pembakaran bahan bakar fosil umumnya terjadi karena pembakaran yang tidak sempurna dan akibat adanya pengotor dalam bahan bakar tersebut.
a)Pembakaran Tidak Sempurna
Bahan bakar fosil mengandung senyawa hidrokarbon. Pada pembakaran sempurna senyawa hidrokarbon akan dihasilkan karbon dioksida dan uap air. Akan tetapi, jika udara untuk pembakaran tidak mencukupi, maka pembakaran akan berlangsung tidak sempurna dan menghasilkan karbon monoksida disamping karbon dioksida. Jika udara sangat kurang, maka pembakaran juga dapat menghasilkan jelaga, yaitu partikel karbon yang tidak terbakar.
b)Pengotor dalam Bahan Bakar
Bahan bakar fosil, khususnya batu bara, biasanya mengandung sedikit belerang. Ketika bahan bakar dibakar, belerang akan terlepas sebagai belerang dioksida. Batu bara juga mengandung berbagai senyawa logam sebagai pengotor. Oleh karena itu, pembakaran batu bara akan meninggalkan abu. Abu tersebut terutama mengandung oksida-oksida logam.
c)Bahan Aditif dalam Bahan Bakar
Seperti yang telah kita ketahui, bensin ditambahkan berbagai aditif untuk menaikkan nilai oktannya. Salah satunya adalah TEL {Pb(C2H5)}. Pembakaran TEL akan menghasilkan timbel(II) oksida yang dapat menempel pada mesin kendaraan (silinder). Oleh karena itu, ke dalam bensin bertimbel ditambahkan juga etilen bromida, yaitu berfungsi sebagai scavenger. Senyawa ini akan mengubah timbel(II) oksida menjadi timbel(II) bromida yang mudah menguap dan keluar bersama dengan asap kendaraan.

2.Asap Buang Kendaraan Bermotor

Gas-gas yang terdapat dalam asap kendaraan bermotor tersebut banyak yang dapat menimbulkan kerugian, diantaranya adalah karbon dioksida, karbon monoksida, hidrokarbon, oksida nitrogen, dan oksida belerang.
a)Karbon Dioksida (CO2)
Sebenarnya, karbon dioksida tidak berbahaya bagi manusia. Akan tetapi, karbon dioksida tergolong gas rumah kaca, sehingga peningkatan kadar CO2 di udara dapat mengakibatkan peningkatan suhu permukaan bumi. Peningkatan suhu karena meningkatnya kadar gas-gas rumah kaca di udara disebut pemanasan global.
b)Karbon Monoksida(CO)
Gas karbon monoksida tidak berbau dan tidak berwarna. Oleh karena itu, kehadirannya tidak segera diketahui. Gas itu bersifat racun, dapat menimbulkan rasa sakit pada mata, saluran pernafasan dan paru-paru. Bila masuk ke dalam darah melalui pernafasan, CO bereaksi dengan hemoglobin dalam darah membentuk COHb (karbonsihemoglobin).
CO + Hb  COHb



c) Oksida belerang (SO2 dan SO3)
Gas belerang dioksida (SO2), apabila terhirup dan masuk ke dalam system pernafasan, akan berekasi dengan air dalam saluran pernafasan, dan membentuk asam sulfat yang merusak jaringan dan menimbulkan rasa sakit. Apabila gas belerang trioksida (SO3) yang terhirup, maka yang terbentuk adalah asam sulfat. Asam ini lebih berbahaya dari pada asam sulfit. Oksida belerang dapat pula larut dalam air hujan dan menyebabkan terjadinya hujan asam.
d)Oksida Nitrogen (NO dan NO2)
Campuran NO dan NO2 sebagai pencemaran udara biasanya ditandai dengan lambing NOX. Ambang batas NOX di udara adalah 0,05 ppm. NOX di udara tidak beracun (secara langsung) pada manusia, tetapi NOx ini bereaksi dengan bahan-bahan pencemar lain dan menimbulkan fenomena asbut (asap-kabut). Asbut menyebabkan berkurangnya daya pandang, iritasi pada mata dan saluran pernafasan, menjadikan tanaman layu, dan menurunkan kualitas materi.
e)Partikel Timbel
Senyawa timbel di udara dapat mengendap pada tanaman. Hal ini akan menyebabkan bahan makanan berupa sayur-sayuran dapat terkontaminasi oleh senyawa timbel. Kadar timbel dalam darah penduduk daerah perkotaan banyak yang mencapai tingkat yang dapat menyebabkan gejala keracunan timbel. Keracunan timbel ringan menyebabkan sakit kepala, mudah teriritasi, mudah lelah, dan depresi. Keracunan yang lebih hebat menyebabkan kerusakan otak, ginjal, dan hati. Para ahli mensinyalir bahwa penyimpangan perilaku, seperti vandalisme dan holiganisme, mungkin sebagian disebabkan keracunan timbel.

3.Pengubahan Katalitik (Catalytic Converter)

Salah satu cara untuk mengurangi bahan pencemar yang berasal dari asap kendaraan bermotor adalah memasang pengubah katalitik pada knalpot kendaraan. Pengubahan katalitik berupa silinder dari baja tahan karat yang berisi suatu struktur berbentuk sarang lebah yang dilapisi katalis( biasanya platina).
Pada separo bagian pertama dari pengubah katalitik, karbon monoksida bereaksi dengan nitrogen monoksida membentuk karbon dioksida dan nitrogen. Pada bagian berikutnya, hidrokarbon dan karbon monoksida (jika masih ada) dioksidasi membentuk karbon dioksida dan uap air.

katalitik
2CO(g) + 2NO(g) menjadi 2CO2(g) + N2(g)
Timbel dapat meracuni katalis dalam pengubah katalitik. Oleh karena itu, pengubah katalitik hanya dapat berfungsi jika kendaraan menggunakan bensin tanpa timbel.

2.3 Indikasi Pencemaran Lingkungan Akibat Limbah Industri
Jenis-jenis pencemaran yang disebabkan oleh industri antara lain pencemaran air, udara, tanah, dan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Gejala pencemaran lingkungan dapat dilihat dari parameter fisik dan kimia. Indikasi secara fisik dan kimia dari pencemaran air misalnya dapat dilihat dari parameter-parameter fisika dan kimia. Parameter fisika dan kimia yang ditimbulkan dari penecemaran itu menyebabkan perubahan-perubahan yang cukup signifikan dibandingkan dengan kondisi normalnya. Perubahan pada parameter ini menimbulkan perubahan pH, perubahan warna, bau, rasa dan timbulnya endapan (http://id.wikipedia.org/wiki/Limbah).
1.Perubahan pH (tingkat keasaman / konsentrasi ion hidrogen). Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan memiliki pH netral dengan kisaran nilai 6.5 – 7.5. Air limbah industri yang belum terolah dan memiliki pH diluar nilai pH netral, akan mengubah pH air sungai dan dapat mengganggu kehidupan organisme di dalamnya. Hal ini akan semakin parah jika daya dukung lingkungan rendah serta debit air sungai rendah. Limbah dengan pH asam/rendah bersifat korosif terhadap logam.
2.Perubahan warna, bau dan rasa. Air normal dan air bersih tidak akan berwarna, sehingga tampak bening/jernih. Bila kondisi air warnanya berubah maka hal tersebut merupakan salah satu indikasi bahwa air telah tercemar. Timbulnya bau pada air lingkungan merupakan indikasi kuat bahwa air telah tercemar. Air yang bau dapat berasal dari limbah industri atau dari hasil degradasi oleh mikroba. Mikroba yang hidup dalam air akan mengubah organik menjadi bahan yang mudah menguap dan berbau sehingga mengubah rasa.
3.Timbulnya endapan, koloid dan bahan terlarut. Endapan, koloid dan bahan terlarut berasal dari adanya limbah industri yang berbentuk padat. Limbah industri yang berbentuk padat, bila tidak larut sempurna akan mengendap di dasar sungai, dan yang larut sebagian akan menjadi koloid dan akan menghalangi bahan-bahan organik yang sulit diukur melalui uji BOD karena sulit didegradasi melalui reaksi biokimia, namun dapat diukur melalui uji COD.
Kronisnya permasalahan lingkungan hidup terutama menyangkut pencemaran industri yang selama ini terjadi di Indonesia sepertinya tidak memberikan pelajaran yang berarti bagi Negara, minimal berbenah untuk melakukan tindakan-tindakan secara komprehensif dalam menangani pencemaran oleh limbah industri.

2.4 Cara Agar Kimia Berwawasan Lingkungan Dapat Terwujud

Cara agar Kimia Berwawasan Lingkungan dapat terwujud dengan cara :
1. Mengelola Air Limbah
Tujuan utama pengolahan air limbah ialah untuk mengurai kandungan bahan pencemar di dalam air terutama senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen, dan senyawa organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang terdapat di alam. Pengolahan air limbah tersebut dapat dibagi menjadi 5 (lima) tahap :
1.Pengolahan Awal (Pretreatment).

Tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah. Beberapa proses pengolahan yang berlangsung pada tahap ini ialah screen and grit removal, equalization and storage, serta oil separation.

2.Pengolahan Tahap Pertama (Primary Treatment)

Pada dasarnya, pengolahan tahap pertama ini masih memiliki tujuan yang sama dengan pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada proses yang berlangsung. Proses yang terjadi pada pengolahan tahap pertama ialah neutralization, chemical addition and coagulation, flotation, sedimentation, dan filtration.

3.Pengolahan Tahap Kedua (Secondary Treatment)

Pengolahan tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari air limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa. Peralatan pengolahan yang umum digunakan pada pengolahan tahap ini ialah activated sludge, anaerobic lagoon, tricking filter, aerated lagoon, stabilization basin, rotating biological contactor, serta anaerobic contactor and filter.

4.Pengolahan Tahap Ketiga (Tertiary Treatment)

Proses-proses yang terlibat dalam pengolahan air limbah tahap ketiga ialah coagulation and sedimentation, filtration, carbon adsorption, ion exchange, membrane separation, serta thickening gravity or flotation.

5.Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment)
Lumpur yang terbentuk sebagai hasil keempat tahap pengolahan sebelumnya kemudian diolah kembali melalui proses digestion or wet combustion, pressure filtration, vacuum filtration, centrifugation, lagooning or drying bed, incineration, atau landfill.
Pemilihan proses yang tepat didahului dengan mengelompokkan karakteristik kontaminan dalam air limbah dengan menggunakan indikator parameter yang sudah ditampilkan pada tabel di atas. Setelah kontaminan dikarakterisasikan, diadakan pertimbangan secara detail mengenai aspek ekonomi, aspek teknis, keamanan, kehandalan, dan kemudahan pengoperasian. Pada akhirnya, teknologi yang dipilih haruslah teknologi yang tepat guna sesuai dengan karakteristik limbah yang akan diolah. Setelah pertimbangan-pertimbangan detail, perlu juga dilakukan studi kelayakan atau bahkan percobaan skala laboratorium yang bertujuan untuk :
1.Memastikan bahwa teknologi yang dipilih terdiri dari proses-proses yang sesuai dengan karakteristik limbah yang akan diolah.
2.Mengembangkan dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk menentukan efisiensi pengolahan yang diharapkan.
3.Menyediakan informasi teknik dan ekonomi yang diperlukan untuk penerapan skala sebenarnya.

2. Beraktifitas Dengan Menggunakan Sarana yang Ramah Lingkungan
Seperti yang kita ketahui, di era globalisasi ini, banyak sekali teknologi maju yang membantu kita dalam menjalankan aktifitas kita sehari-hari. Akan tetapi teknologi tersebut tidak hanya memberikan dampak positif bagi kita, teknologi tersebut memiliki dampak negative bagi lingkungan sekitar kita.
Dalam memilih alat-alat pembantu aktifitas, pilihlah alat yang tidak hanya memiliki teknologi canggih namun memiliki teknologi yang ramah lingkungan. Contohnya adalah membeli kendaraan bermotor yang telah memiliki teknologi canggih untuk mengolah pembuangannya sehingga tidak membahayakan lingkungan.

3.Kegiatan Kebersihan di Lingkungan Tempat Tinggal
Melakukan kegiatan kebersihan di lingkungan tempat tinggal merupakan suatu kegiatan positif dan ampuh untuk mengatasi masalah pencemaran lingkungan di sekitar rumah. Kegiatan ini dapat dilakukan bersama-sama dengan tetangga yang dipimpin oleh ketua setempat( RT). Dengan adanya kerja bakti ini, sampah-sampah dari plastik yang tidak dapat membusuk dan dapat menghambat kesuburan tanah ditanggulangi sehingga tanah tidak terganggu kesuburannya. Selain itu, sampah plastik lama kelamaan akan menumpuk dan membuat saluran air tersumbat. Saluran air yang tersumbat dapat mengakibatkan bencana banjir.

4.Sekolah Berwawasan Lingkungan
Sekolah berwawasan lingkungan memiliki peran penting terhadap terciptanya lingkungan yang sehat, karena sekolah yang berwawasan lingkungan mengupayakan hal-hal berikut :
1. menetapkan peruntukan lahan dan pekarangan sekolah secara jelas,
2. menanam pohon pelindung dipekarangan sekolah dan disekitar sekolah,
3. menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan sekolah,
4. pemberdayaan warga sekolah mengelola lingkungan sekolah.
Dalam membenahi pekarangan sekolah untuk menciptakan Sekolah Berwawasan Lingkungan, terlebih dulu harus ditetapkan peruntukan lahan sekolah untuk; bangunan, penghijauan, kebun sekolah, taman kelas, taman burung, green house, apotik hidup, kolam ikan, tempat membuang sampah.
Untuk menjaga kondisi udara dalam keadaan sejuk, nyaman, segar dan bersih, harus dilakukan penghijauan dengan menanam pohon pelindung di pekarangan sekolah, dan disekitar sekolah. Pohon pelindung ini dapat membantu mengurangi dampak yang ditimbulkan dari pemanasan global di lingkungan sekolah.
Lingkungan sekolah harus selalu dijaga kebersihannya. Sampah yang dihasilkan dimusnahkan dengan cara; membakar, menimbun dalam tanah, mendaur ulang, dijadikan kompos. Air yang digunakan disekolah selalu dalam keadaan bersih, dan tidak boleh aadanya genangan air di pekarangan sekolah.
Upaya menciptakan Sekolah Berwawasan Lingkungan, sebagaimana diuraikan diatas dapat dilakukan apabila seluruh warga sekolah berpartipasi, dan peduli terhadap lingkungan sekolah, serta mau melestarikannya. Selama kelestarian dari lingkungan Sekolah Berwawasan Lingkungan, maka selama itu pulalah pengaruh negative dari pemanasan global dapat diminimalisasikan.

Bab III
Penutup


3.1 Kesimpulan

Dari penulisan karya tulis ini, kesimpulan yang dapat diambil adalah :
1.Kimia berwawasan lingkungan berarti penggunaan atau penerapan ilmu kimia yang memandang dampaknya terhadap lingkungan. Dengan menerapkannya dalam kehidupan, kerusakan lingkungan akan teratasi bahkan terhapuskan. Namun, semua ini butuh kerja sama dan kekompakan. Setiap orang wajib mempertimbangkan penggunaan bahan-bahan kimia dengan bahayanya terhadap lingkungan.
2.Pencemaran Lingkungan dari sumbernya dibedakan menjadi 2 yaitu:
a)Pencemaran akibat proses industri
Pencemaran air, udara, tanah dan pembuangan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dapat dihasilkan dari proses produksi industri. Salah satu penyebab yang terjadi karena pemerintah dan pelaku industri kurang mengedepankan sektor lingkungan. Limbah industri umumnya berupa bahan sintetik, logam berat, bahan beracun berbahaya yang sulit untuk diurai oleh proses biologi (nondegradable) selain itu limbah industri bersifat menetap dan mudah terakumulasi (biomagnifikasi) bahkan logam berat sebagai sebuah unsur memiliki kodrat menetap di alam tidak dapat dihilangkan.
b)Pencemaran akibat pembakaran bahan bakar fosil
Terdiri dari :
1.Sumber Bahan Pencemaran
Pencemaran akibat pembakaran bahan bakar fosil umumnya terjadi karena pembakaran yang tidak sempurna dan akibat adanya pengotor dalam bahan bakar tersebut.
2.Asap Buang Kendaraan Bermotor
Gas-gas yang terdapat dalam asap kendaraan bermotor tersebut banyak yang dapat menimbulkan kerugian, diantaranya adalah karbon dioksida, karbon monoksida, hidrokarbon, oksida nitrogen, dan oksida belerang.
3.Pengubahan Katalitik (Catalytic Converter)
Salah satu cara untuk mengurangi bahan pencemar yang berasal dari asap kendaraan bermotor adalah memasang pengubah katalitik pada knalpot kendaraan. Pengubahan katalitik berupa silinder dari baja tahan karat yang berisi suatu struktur berbentuk sarang lebah yang dilapisi katalis( biasanya platina).
3.Indikasi Pencemaran Lingkungan Akibat Limbah Industri :
a.Perubahan pH (tingkat keasaman / konsentrasi ion hidrogen).
b.Perubahan warna, bau dan rasa.
c.Timbulnya endapan, koloid dan bahan terlarut.
4.Cara Agar Kimia Berwawasan Lingkungan Dapat Terwujud :
a. Mengelola Air Limbah
b. Beraktifitas Dengan Menggunakan Sarana yang Ramah Lingkungan
c. Kegiatan Kebersihan di Lingkungan Tempat Tinggal
d. Sekolah Berwawasan Lingkungan

3.2 Saran

1.Para perusahaan besar, pabrik-pabrik besar sebaiknya lebih memperhatikan limbah industri yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat dan lingkungan sekitar.
2.Pemerintah seharusnya menindak tegas bagi pengusaha-pengusaha yang melanggar peraturan mengenai limbah industry dan lebih memperketat pengawalan terhadap pabrik-pabrik industri.
3.Masyarakat umum harus kompak dalam menjaga kelestarian alam sekitar dan lebih menjaga kebersihan tempat tinggal sebagai tempat hidup yang sehat dan asri.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Limbah
http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/01/250px-trickling_filter_bed_2_w.JPG
http://majarimagazine.com/2008/01/teknologi-pengolahan-air-limbah/
Read More..

Penyaringan dan Pengkristalan


A. Tujuan :
Mengetahui dan memahami penyaringan dan pengkristalan dari larutan kristal garam dapur

B. Alat dan bahan :
Gelas kimia 100 mL Kertas saring
Gelas Erlenmeyer 100 mL Kaki tiga
Corong Segi tiga
Pembakar spritus Batang pengaduk
Cawan porselin Kristal garam dapur
Pasir

C. Cara kerja :

1. Campurlah kira-kira 2 gram garam dapur kotor dengan kira-kira 1 gram pasir dalam gelas kimia kemudian tambahkan air kira-kira 10 mL.
Aduk sehingga semua garam melarut.
2. Lipat kertas saring kemudian masukkan dalam corong.
3. Saringlah campuran pada langkah (1) dan tampung filtratnya di dalam gelas Erlenmeyer.
Perhatikan filtrate yang diperoleh, jernih atau keruh? Amati juga residu yang terdapat pada kertas saring, zat apakah itu (pasir atau garam)?
4. Tuangkan kira-kira 5 mL filtrate yang didapat pada langkah (3) ke dalam pinggan penguapan kemudian panaskan dengan pembakar spritus sehingga hampir kering. Kemudian biarkan menjadi dingin. Anda akan mendapat kristal garam dapur yang berwarna putih.




D. Landasan teori :

Natrium adalah logam putih perak yang lunak, yang melebur pada 97,5 0C. Natrium teroksidasi dengan cepat dalam udara lembab, maka harus disimpan terendam seluruhnya dalam pelarut nafta atau silena. Logam ini bereaksi keras dengan air, membentuk Natrium Hidroksida dan Hidrogen. Dalam garam-garamnya natrium berada sebagai kation monovalen Na+. Garam-garam ini membentuk larutan tak berwarna, hampir semua garam natrium larut dalam air.
Kebanyakan klorida larut dalam air, Merkurium (I) klorida, HgCl2, perak klorida, AgCl, timbale klorida, PbCl2 (yang ini larut sangat sedikit dalam air dingin, tetapi mudah larut dalam air mendidih), tembaga (I) klorida, CuCl, bismuth oksiklorida, BiOCl, stibium oksiklorida, SbOCl, dan merkurium (II) oksiklorida, HgOCl2, tak larut dalam air.
Di bidang teknik kimia seringkali bahan padat harus dipisahkan dari larutan atau lelehan, tanpa mengikat kotoran-kotoran yang terkandung dalam fasa cair tersebut. Seringkali juga bahan padat kristalin yang mengandung pengotor harus dibersihkan atau harus dihasilkan bentuk-bentuk kristal tertentu, untuk maksud tersebut proses kristalisasi dapat digunakan. Kristal adalah bahan padat dengan susunan atom atau molekul yang teratur. Yang dimaksud kristalisasi adalah pemisahan bahan padat berbentuk kristal dari suatu larutan atau lelehan. Hasil kristalisasi dari lelehan sering harus didinginkan lagi atau dikecilkan ukurannya.
Senyawa organik padat yang dari reaksi organic diisolasi jarang terbentuk murni. Senyawa tersebut biasanya terkontaminasi dengan sedikit senyawa lain (“impurities”) yang dihasilkan selama reaksi berlangsung. Pemurnian senyawa tak murni biasanya dikerjakan dengan rekristalisasi dengan berbagai pelarut atau campuran pelarut. Pemurnian padatan dengan rekristalisasi didasarkan pada perbedaan dalam kelarutannya dalam pelarut tertentu atau campuran pelarut
Terdapat beberapa definisi tentang rekristalisasi yaitu : 1. suatu proses dimana butir logam yang terdeformasi digantikan oleh butiran baru yang tidak terdeformasi yang intinya tumbuh sampai butiran asli termasuk didalamnya 2. Perubahan struktur kristal akibat pemanasan pada suhu kritis 3. Terbentuknya struktur butiran baru melalui tumbuhnya inti dengan pemanasan. Impuritis pada garam meliputi senyawa yang bersifat higroskopis yaitu MgCl2, CaCl2, MgSO4 dan CaSO4, dan beberapa zat yang bersifat reduktor yaitu Fe, Cu, Zn dan senyawa-senyawa organik. Impuritis-impuritis tersebut dapat bereaksi dengan ion hidroksil (OH-) sehingga, terutama, membentuk endapan putih Ca(OH)2 dan Mg(OH)2.
Kristalisasi adalah proses pembentukan fase padat (kristal) komponen tunggal dari fase cair (larutan atau lelehan) yang multi komponen, dan dilakukan dengan cara pendinginan, penguapan dan atau kombinasi pendinginan dan penguapan. Proses pembentukan kristal dilakukan dalam tiga tahap, yaitu (1) pencapaian kondisi super/lewat jenuh (supersaturation), (2) pembentukan inti kristal (nucleation), dan 93) pertumbuhan inti kristal menjadi kristal (crystal growth). Kondisi super jenuh dapat dicapai dengan pendinginan. Penguapan, penambahan presipitan atau sebagai akibat dari reaksi kimia antara dua fase yang homogen. Sedangkan pembentukan inti kristal terjadi setelah kondisi super/lewat jenuh (supersaturated) tercapai.

E. Hasil Pengamatan :
2 NaCl + CaO CaCl2 + Na2O
CaCl2 + Na2O + Ba(OH)2 2NaOH + BaCl2 + CaO
2NaOH + BaCl2 + CaO + (NH4)2CO3 NaCl + Ba(OH)2 + CaCO3 + NH4Cl
NaCl + Ba(OH)2 + NH4Cl + HCl BaCl2+ NaCl + NH3 + Cl2 +H2O


F. Pembahasan :
Selain senyawa dengan ikatan kovalen, dikenal pula senyawa dengan jenis ikatan lain, yaitu ikatan elektrovalen atau ikatan ionik yang didasarkan pada tarikan elektrostatik antara ion yang berlawanan muatan. Teori ini dapat menerangkan struktur kristal dari zat padat.
NaCl merupakan salah satu contoh padatan ionik karena tersusun atas ion-ion berlawanan muatan yang saling tarik menarik. Senyawa penyusun NaCl sendiri memiliki sifat khasnya msing-masing dan sangat berbeda dengan senyawa yang disusunnya. Contohnya, unsur Na yang mudah meledak dalam air dan ternyata justru berlainan sifat dengan NaCl yang cenderung mudah larut dalam air dan terionisasi. Hal ini diakibatkan adanya pengaruh anion-anion yang diikat oleh Na dalam NaCl sehingga menyebabkan sifat asli dari Na hilang. Dalam padatan ionik seperti kristal yang tersusun dari ion-ion akan terjadi tarik-menarik antara kation dan anion yaitu gaya elektrostatik Coulomb serta tolak menolak ion sejenis. Keseimbangan antara tarik-menarik dan tolak-menolak ini menghasilkan energi kisi kristal. Atom Na hanya mempunyai satu elektron valensi. Dengan menyerahkan elektron tersebut tercapai susunan elektron seperti neon dan Na menjadi bermuatan positif Na+. Atom Cl memiliki 7 elektron valensi, dengan menerima satu elektron tambahan akan membentuk anion, Cl-. Natrium klorida (NaCl) senyawa ionik dengan jumlah Na dan Cl yang sama.
Senyawa alkali halida seperti NaCl menunjukkan bahwa jarak antar ion adalah jumlah jari-jari ion positif dan jari-jari ion negatif, sehingga jumlah ini digunakan untuk menerangkan struktur dari kristal ioniknya. Perbandingan jari-jari ion dapat memberikan gambaran mengenai bilangan koordinasi.
Hal ini berarti kristal NaCl memiliki bilangan koordinasi 6, dimana 1 kation Na+ dikelilingi 6 anion Cl-. Pada jarak antar ion yang sangat besar secara energitika yang terbentuk adalah atom Na dan Cl. Apabila kedua partikel saling mendekat, maka kduanya berubah menjadi ion. Adanya gaya elektrostatik yang besar yang menyebabkan kedua ion mendekat sampai tercapai keadaan setimbang, yaitu pada titik minimum. Pada jarak yang sangat dekat ini yang berperan adalah gaya tolak-menolak antara ion yang bermuatan sejenis. Kristal ion yang terbentuk kemudian terdiri dari susunan teratur dari kation Na+ dan anion Cl- dalam kisi kristal. Kisi Kristal adalah kumpulan dari satuan-satuan kecil yang disebut sel satuan dan ion-ion dinyatakan sebagai titik-titik. Satu lagi perbedaan nyata dari senyawa NaCl berbentuk kristal dengan ion-ion ynag menyusunnya, yaitu jari-jari kristal NaVl<>+ atau Cl-. Hal ini disebabkan dalam kristalnya, terjadi menarik antara kation dengan anion yang memperkecil jarak antar ionnya (r kristal). Jadi, struktur oktahedral NaCl ini akan bertumpuk dengan semakin banyaknya atom Na dan Cl yang bergabung sehingga menghasilkan kristal NaCl
Metode pemurnian yang akan digunakan kali ini adalah dengan rekristalisasi. Metode ini didasarkan pada perbedaan daya larut antara zat yang dimurnikan dengan kotoran dalam suatu pelarut tertentu. Ada beberapa syarat agar suatu pelrut dapat digunakan dalam proses kristalisasi yaitu: 1. Memberikan perbedaan daya larut yang cukup besar antara zat yang dimurnikan dengan zat pengotor, 2. Tidak meninggalkan zat pengotor pada kristal, 3. Mudah dipisahkan dari kristalnya.
Dalam percobaan ini akan dipelajari cara memurnikan natrium klorida yang berasal dari garam dapur dengan menggunakan air sebagai pelarutnya. NaCl merupakan komponen utama penyusun garam dapur. Komponen lainnya merupakan pengotor biasanya berasal dari ion-ion Ca2+, Mg2+, Al3+, SO42-, I- dan Br. Agar daya larut antar NaCl dengan zat pengotor cukup besar maka perlu dilakukan penambahan zat-zat tertentu. Zat-zat tambahan itu kan membentuk senyawa terutama garam yang sukar larut dalam air, selain itu rekristalisai dapat dilakukan dengan cara menambahkan ion sejenis ke dalam larutan zat yang akan dipisahkan.
Garam NaCl dilarutkan ke dalam air panas sehingga pengotor-pengotor berupa partikel padat bisa terlepas dan menjadi koloid dalam larutan sehingga dapat terkumpul saat disaring. Pelarutan ini juga mengakibatkan NaCl terionisasi dalam air. Filtrat pertama kali direkristalisasi dengan pelarut CaO yang berfungsi memutihkan garam yang dihasilkan nantinya karena dapat mengikat pengotor berupa Ca2+. Selanjutnya rekristalisasi dengan Ba(OH)2 juga memiliki fungsi yang sama dengan CaO, tetapi khusus mengikat pengotor berupa ion Mg2+ atau Al3+. Rekristalisasi terakhir dilakukan dengan penambahan pelarut (NH4)2CO3 yang berguna untuk mengikat sisa-sisa zat pengotor yang mungkin masih ada dalam larutan garam tetapi tidak bisa terikat oleh 2 pelarut sebelumnya. Zat-zat pengotor itu mungkin berada dalam bentuk ion SO42-, I-, Br, dll. Dengan adanya penambahan 3 pelarut tadi, maka dapat disumsikan bahwa larutan garam sudah murni dan tidak mengandung zat pengotor lagi. Zat-zat pengotor tersebut terikat dengan pelarut sehingga tersuspensi dan dapat dipisahkan melalui penyaringan . Penambahan HCl pada filtrat diperlukan karena larutan garam sudah bersifat basa akibat dari penambahan Ba(OH)2¬ saat rekristalisasi kedua. Diusahakan agar larutan garam netral (pH=7). Larutan garam kemudian dipanaskan sehingga diperoleh NaCl murni dalam bentuk serbuk karena setelah melalui pemanasan serta pelarutan menyebabkan ikatan-ikatan antar ion dalam kisi kristal sebagian besar putus dan tidak lagi terdapat dalam bentuk bongkahan.




G. Kesimpulan :
Prinsip pemurnian NaCl dengan metode rekristalisasi adalah memisahkan NaCl dari zat-zat pengotor berdasarkan perbedaan daya larut keduanya dalam pelarut tertentu seperti CaO, Ba(OH)2, dsan (NH4)2CO3. Zat-zat pengotor yang telah terikat dalam pelarut yang sesuai dan mengendap sehingga dapat dipisahkan dengan NaCl melalui penyaringan.


H. DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/rekristalisasi
Purba,Michael. 2006. Kimia untuk SMA Kelas X Semester 1. Jakarta:Erlangga



DISUSUN OLEH:
1. DWI YULYSTINE TANAWI
2. ILYAN NASTI JANUARI
3. MARTHA NAPITUPULU
4. PRACOYO ADI PAMECO
5. RAHMI AMELIA

DINAS PENDIDIKAN NASIONAL
SMA NEGERI 2 KOTA BENGKULU
TAHUN AJARAN 2009/2010
Read More..
Template Design by Pracoyo Adi